Audit Atas
Aktiva Tetap
Tugas
Auding 2

Oleh :
Ahmad
Tarmizi
Antivah
Dwiningsih
Dona
Mariana
Meilya
Yessy
Taufik
Handoko
Yoyon
Apriadi
Jurusan
Akuntansi
Fakultas
Ekonomi
Universitas
Muhammadiyah Riau
2014
Kata
Pengantar
ASSALAMUALAIKUM
WR.WB.
Puja dan puji syukur kami panjatkan
kehadirat ALLAH SWT. Yang telah memberikan Rahmat-Nya sehingga kami dapat
menyelesaikan tugas makalah ini, yang berjudul “ Audit atas Aktiva Tetap “.
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas
mata kuliah Auditing 2.
yang dibimbing oleh ibu Arumega
Zarefar SE. Mak.
Akt. Untuk itu dari
penulis berharap semoga makalah ini bisa
bermanfaat bagi pembaca dan penulis. Kritik dan saran penulis harapkan untuk
kesempurnaan makalah ini.
WASSALAMUALAIKUM
WR.WB.
Pekanbaru,
04 April 2014
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Secara umum tujuan utama didirikannya sebuah perusahaan adalah untuk
memperoleh laba yang optimal atas investasi yang telah ditanamkan dan dapat
mempertahankan kelancaran usaha dalam jangka waktu yang panjang. Salah satu
investasi tersebut adalah aktiva yang digunakan dalam kegiatan normal
perusahaan yaitu aktiva yang mempunyai umur ekonomis lebih dari satu tahun.
Untuk mencapainya diperlukan pengelolaan
yang efektif dalam penggunaan,
pemeliharaan maupun pencatatan akuntansinya.
Bersama dengan berlalunya waktu nilai ekonomis suatu aktiva tetap tersebut
harus dapat dibebankan secara tetap dan salah satu caranya adalah dengan
menentukan metode penyusutan. Untuk itu perlu diketahui apakah metode
penyusutan yang telah diterapkan oleh
perusahaan telah memperhatikan perubahan nilai aktiva tetap yang menurun yang
disebabkan karena berlalunya waktu atau menurunnya manfaat yang diberikan aktiva
tersebut.
Aktiva tetap biasanya merupakan bagian investasi yang cukup besar
dalam jumlah keseluruhan asset
perusahaan. Besarnya investasi yang ditanamkan dalam aktiva tetap menjadikan
aktiva tetap itu perlu mendapatkan perhatian yang serius. Tidak hanya pada
penggunaan dan operasinya saja tetapi juga dalam akuntansinya yang biasanya
mencakup perolehan aktiva tetap, penghentian atau pelepasan aktiva tetap, serta
penyajian dan pengungkapannya dalam laporan keuangan.
Oleh karena itu, perlunya untuk mengetahui serta
memahami secara rinci tentang aktiva tetap baik aktiva tetap berwujud maupun
tidak berwujud. Dengan cara demikian kita mampu mengaplikasikan apa saja yang
terdapat di dalam aktiva tetap sebuah perusahaan. Namun untuk
mendapatkan rincian yang baik terhadap aktiva tetap, diperlukan pengendalian
terhadap aktiva berupa pengujian substantif.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan dari penulisan makalah ini sebagai berikut:
·
Apakah yang dimaksud dengan aktiva tetap dan
bagaimana penggolongan aktiva tetap?
·
Apa saja transaksi yang bersangkutan dengan
aktiva tetap?
·
Apa perbedaan karakteristik aktiva tetap
dengan aktiva lancar?
·
Apa perbedaan pengujian
substantif aktiva tetap dengan aktiva lancar ?
·
Bagaimana prosedur audit aktiva tetap?
1.3 Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan dari penulisan makalah ini
adalah sebagai berikut :
·
Untuk mengetahui dan memahami pengertian dan penggolongan aktiva tetap.
·
Untuk mengetahui dan memahami bentuk
transaksi yang bersangkutan dengan aktiva tetap.
·
Untuk mengetahui dan memahami perbedaan karakteristik aktiva tetap dengan aktiva lancar.
·
Untuk mengetahui dan memahami
perbedaan pengujian substantif aktiva tetap dengan aktiva lancar.
·
Untuk mengetahui dan
memahami prosedur audit aktiva tetap.
BAB II
LANDASAN TEORY
2.1 Definisi Aktiva Tetap
Aktiva tetap merupakan aktiva perusahaan yang tidak
dimaksudkan untuk dijual belikan melainkan untuk digunakan dalam kegiatan
perusahaan yang umumnya lebih dari satu tahun, dan merupakan pengeluaran
perusahaan dalam jumlah yang besar.
Sifat pertama dari aktiva tetap adalah bahwa maksud
perolehannya bukan untuk dijual belikan melainkan untuk digunakan dalam
kegiatan perusahaan. Sifat ini lah yang membedakannya dari persediaan barang (
inventory ). Contoh : mobil yang diperdagangkan oleh dealer mobil merupakan
persediaan barang sedangkan mobil yang dipakainya untuk antar jemput pegawai
merupakan aktiva tetap.
Sifat kedua dari aktiva tetap adalah umurnya yang
lebih dari satu tahun. Karena sifat inilah maka kita mengenal unsur penyusutan
dalam aktiva tetap. Penyusutan tidak lain dari pada alokasi biaya tetap
tersebut dalam masa umur aktiva tetap yang bersangkutan.
Didalam literatur dan peraktik akuntansi, aktiva yang
mempunyai sifat pertama dan kedua tersebut diatas sudah dianggap sebagai aktiva
tetap. Akibatnya, semua aktiva yang digunakan dalam kegiatan perusahaan dan
berumur lebih dari satu tahun langsung dijadikan aktiva tetap ( istilahnya
adalah : dikapitalisasi ). Contoh : sapu dan gelas minum yang dipakai dikantor
ikut dikapitalisasi.
Mengkapitalisasi aktiva yang tidak besar jumlahnya
sebenarnya tidaklah bijaksana. Setiap aktiva harus diadministrasikan dengan
cara tertentu, misalnya harus ada kartu aktiva tetap, penyusutan harus dihitung
secara berkala misalnya satu bulan sekali, dan harus ada inventarisasi atas
aktiva tetap, misalnya setahun sekali. Penatausahaan aktiva tetap ini memakan
waktu dan biaya sedangkan biaya ini mungkin melebihi biaya “ ativa tetap “ yang
kecil.
Oleh karena itu untuk digolongkan sebagai aktiva
tetap, suatu aktiva juga harus mempunyai sifat ketiga yaitu : yakni bahwa
pengeluaran tersebut harus merupakan pengeluaran yang besar bagi perusahaan
tersebut. Dengan kata lain, suatu perusahaan harus mempunyai kebijakan
kapitalisasi yang menetapkan jumlah minimum pengeluaran yang dapat
dikapitalisasi. Ini berarti bahwa pengeluaran dibawah jumlah minimum tersebut
harus dibebankan kerugi laba tahun yang berjalan.
Setiapa perusahaan tentunya mempunyai kebijaksanaan
kapitalisasi tersendiri, karena material untuk suatu perusahaan belum tentu
material untuk perusahaan yang lain.
Contoh : sebuah mesin tik dalam suatu biro perjalanan yang kecil mungkin sangat
material jumlah nya sedangkan mesin tik yang sama langsung harus dibebankan
kerugi-laba dalamsuatu perusahaan tambang.
Disamping pengertian aktiva tetap, didalam pembicaraan
sehari-hari sering dikenal istilah barang/ harta tak bergerak yang merupakan
lawan dari barang/harta tak bergerak. Harta tak gerak tidak sama dengan aktiva
tetap. Istilah barang gerak dan barang tak gerak merupakan istilah hukum.
Dari uraian diatas jelas bahwa barang tak gerak
mungkin merupakan aktiva tetap tapi mungkin juga tidak. Contoh : tanah tempat
usaha merupakan barang tak gerak dan aktiva tetap, sedangkan kalau tanah
tersebut diperjual belikan, maka ia merupakan barang tak gerak tapi bukan
aktiva tetap.
Aktiva tetap dapat dibagi atas tiga kelompok, yakni :
1.
Aktiva tetap
yang dicantumkan berdasarkan harga perolehannya, tanpa disusutkan atau
dideplesi, misalnya : tanah dimana gedung kantor atau suatu pabrik terletak.
2.
Aktiva tetap
yang disusutkan, misalnya gedung, mesin-mesin, perabot kantor, dll.
3.
Aktiva tetap
yang dideplesi misalnya tanah-tanah pertambangan.
2.2 Tujuan Pemeriksaan Aktiva Tetap
Dalam suatu pemeriksaan umum, pemeriksaan atas aktiva
tetap mempunyai tujuan sebagai berikut :
1.
Untuk menentukan
bahwa aktiva tersebut memang ada.
2.
Untuk menetapkan
hak milik atas aktiva tetap dan apakah aktiva tersebut dijadikan jaminan.
3.
Untuk menentukan
apakah penilaian aktiva tersebut adalah sesuai dengan prinsip akuntansi
indonesia.
4.
Untuk menentukan
apakah penyusutan telah sesuai dengan prinsip akuntansi indonesia dan apakah ia
telah diterapkan secara konsisten.
2.3 Pengendalian Intern
Unsur-unsur
utama dari sistem pengendalian intern atas aktiva tetap adalah :
1.
Adanya budget
untuk pengeluaran bagi aktiva tetap yang disetujui oleh pejabat yang berwenang.
Persetujuan ini biasanya dilakukan dalam berbagai tingkat tergantung dari jenis
dan harga aktiva tetap yang bersangkutan. Contoh : pembelian mesin pabrik yang
baru harus mendapat persetujuan dari dewan komisaris terlebih dahulu sedangkan
pembelian mesin tik atau mesin hitung cukup dengan persetujuan kepala bagian
yang membutuhkan perlengkapan tersebut dan direktur keuangan, dst.
2.
Adanya
kebijaksanaan kapitalisasi secara tertulis, yakni yang membedakan antara
pengeluaran yang dianggap sebagai aktiva tetap dan pengeluaran bukan aktiva
tetap.
3.
Kebijaksanaan
mengenai penjualan aktiva tetap, prosedur pem-besi-tuan aktiva tetap, dan
pemindahan suatu aktiva tetap dari suatu bagian kebagian yang lain, atau dari
suatu lokasi kelokasi yang lain atau
dari suatu anak perusahaan keanak perusahaan lain.
4.
Adanya
kartu-kartu aktiva tetap dan inventarisasi atas aktiva tetap secara berkala
5.
Adanya
pengendalian dan pengawasan atas aktiva-aktiva kecil dibawah tanggung jawab
pejabat tertentu.
6.
Adanya asuransi
kerugian atas aktiva tetap yang bisa rusak karena kabakaran atau bencana
lainnya atau kerugian karena hilang atau dicuri.
2.4 Program Pemeriksaan
1.
Minta dari
langganan suatu daftar utama mengenai aktiva tetapnya dengan informasi yang
berikut :
Perubahan dalam tahun
bertajan
Harga perolehan
|
31 des sebelumnya
|
Penambahan
|
Pengurangan
|
31 des tahun berjalan
|
Tanah
Gedung
Mesin
|
Xxx
Xxx
xxx
|
Xxx
Xxx
xxx
|
Xxx
Xxx
xxx
|
Xxx
Xxx
Xxx
|
Total
|
A
|
B
|
C
|
D
|
Akumulasi Penusutan
|
||||
Tanah
Gedung
Mesin
|
Xxx
Xxx
xxx
|
Xxx
Xxx
xxx
|
Xxx
Xxx
xxx
|
Xxx
Xxx
Xxx
|
Total
|
E
|
F
|
G
|
H
|
Bandingkan total A dan E dengan angka dalam kertas
kerja tahun yang lalu dan lakukan footing dan crossfooting.
2.
Periksa
tambahan-tambahan atas aktiva tetap dalam tahun berjalan( yang jumlahnya dalah
B ) mengenai hal-hal yang berikut :
a.
Apakah tambahan
aktiva tersebut benar ada. Ini dapat dilakukan dengan melihat sendiri adanya
tambahan tersebut.
b.
Adanya
persetujuan dari pejabat yang berwenang dan melalui prosedur yang telah
ditetapkan.
c.
Bahwa tambahan
tersebut dicatat dengan harga perolehan dan kalau dibeli dengan mencicil,
seluruh harga aktiva tersebut telah dicatat dan bagian yang belum dilunasi
dicatat sebagai hutang.
d.
Kelengkapan
surat-surat atau dokumen pemilikan, misalnya sertifikat tanah dan akte jual
beli tanah, BPKB, dan lain-lain.
3.
Periksa
pengurangan-pengurangan aktiva tetap dalam tahun berjalan ( yang berjumlah
total C ), khususnya mengenai :
a.
Persetujuan atau
otorisasi atas pengurangan aktiva tetap tersebut misalnya persetujuan untuk
menjual aktiva tetap itu atau untuk menjadikan aktiva tersebut sebagai besi
tua.
b.
Kebenaran
perlakuan akuntansi, misalnya dalam penetapan untung atau rugi karena penjualan
aktiva tersebut dan penyusutan sampai saat penjualan. Ini juga meliputi
pemeriksaaan atas total G.
4.
Periksa tambahan
atas cadangan penyusutan ( yang berjumlah total F ). Ini tidak lain merupakan
pemeriksaan perhitungan penyusutan. Yang harus diperhatikan disini adalah
konsistensi pemakaian metode penyusutan, misalnya kalau tahun lalu menggunakan
metode penyusutan dengan presentase tetap atau metode garis lurus, maka metode
ini pula yang harus ditetapkan tahun ini. Juga taksiran umur yang sama harus
digunakan untuk aktiva yang bersangkutan.
5.
Seperti
penjelasan no 1, akuntansi dapat juga meminta perincian dari masing-masing
jenis aktiva tetap. Ini dapat berupa daftar lengkap aktiva yang bersangkutan
atau suatu daftar/ perincian tambahan dan pengurangan aktiva tetap dalam tahun
yang berjalan, jika digabungkan dengan kertas kerja tahun lalu dapat merupakan
daftar lengkap aktiva tetap sampai dengan akhir tahun berjalan. Jika daftar ini
sudah diperoleh, bandingkan informasi dalam daftar ini dengan kartu-kartu
aktiva tetap yang bersangkutan. Bandingkan angka total dalam perincian aktiva
tetap tersebut dengan angka dalam buku besar yang bersangkutan.
6.
Periksa asuransi
atas aktiva yang bersangkutan, khususnya mengenai nilai pertanggungan, premi
asuransi, orang atau badan yang mendapatkan ganti kerugian, jenis asuransi, dan
apakah polis asuransi masih dalam masa berlakunya. Badan yang akan mendapatkan
ganti rugi belum tentu langganan yang mempunyai aktiva tersebut, misalnya jika
aktiva tersebut juga dijadikan barang jaminan pada bank. Dalam hal ini biasanya
bank meminta agar bank yang menjadi badan yang akan menerima ganti rugi.
7.
Pada pemeriksaan
aktiva tetap sebenarnya sekaligus kita dapat memeriksa perkiraan rugi laba yang
bersangkutan, misalnya :
a.
Biaya penyusutan
dan akumulasi penyusutan
b.
Untun g atau
rugi karena penjualan aktiva tetap
c.
Kerugian karena
pem-besi-tuan aktiva tetap
d.
Kerugian karena
bencana yang memusnakan aktiva tetap dan ganti rugi dari perusahaan asuransi
e.
Biaya reparasi
mesin-mesi.
8.
Kalau perusahaan
juga mempunyai hutang terutama hutang jangka panjang, ada kemungkinan sebagian
atau seluruh aktiva tetap dijadikan jaminan. Hal ini dapat diketahui misalnya
dari perjanjian kredit atau pada waktu pemeriksaan dokumen hak milik, ternyata
dokumen ini tidak ada dan katanya disimpan oleh pemberi kredit. Jika aktiva
tetap dijadikan jaminan maka prosedur yang berikut harus dijalankan :
a.
Pengiriman
permintaan pengukuhan saldo (permintaan
konfirmasi ) kepada pemberi kredit, lengkap dengan permintaan daftar
barang jaminan yang ditahan oleh pemberi kredit.
b.
Pinjam polis
asuransi dan lihat ada atau tidaknya banker’s clause yang menetapkan bahwa bank
menjadi badan yang akan menerima ganti rugi.
c.
Catat syarat
barang jaminan untuk dicantumkan dalam catatan mengenai ikhtisar keuangan
sebagai disclosure dan dalam surat pernyataan pelanggan.
d.
Kalau aktiva
tetap itu dihipotekkan, lakukan pemeriksaan kadaster, yaitu dengan meminta
keterangan tertulis tentang status aktiva tersebut dari kantor pendaftaran
tanah.
2.5 Penyajian Aktiva Tetap Dalam Ikhtisar Keuangan
1)
Sebaiknya
digunakan istilah akumulasi penyusutan dan biaya penyusutan daripada
menggunakan istilah penyusutan saja baik untuk pos neraca maupun pos rugi laba.
2)
Akumulasi
penyusutan hendaknya disajikan sebagai pengurangan atas harga perolehan,
sehingga nilai buku dapat dilihat langsung dari neraca. Ada beberapa perusahaan
yang mencantumkan akumulasi penyusutan disebelah kredit neraca dan bukan
sebagai pengurangan dari biaya perolehan aktiva tetap tersebut. Kalau hal ini
dilakukan, hendaknya :
a.
Neraca sebelah
kiri jangan disebut aktiva dan yang disebelah kanan jangan disebut pasiva
melainkan disebut debet dan kredit. Hal ini disebabkan karena dalam sisi debet
dari nerac, aktiva tetap dinyatakan dalam bentuk harga perolehan tanpa
dikurangi akumulasi penyusutan, sehingga untuk disebut aktiva sisi debet neraca
sebenarnya terlalu tinggi ( Overstated ). Juga akumulasi penyusutan yang
diletakkan disebelah kredit neraca bukanlah merupakan hutang atau modal,
meskipun bersaldo kredit.
b.
Cadangan
penyusutan hendaknya jangan ditaruh dibawah modal atau laba yang ditahan. Hal
ini mungkin akan menimbulkan salah pengertian seolah-olah direksi menyisihkan
pendapatan atau laba yang ditahan ( seolah-olah merupakan appropriation dari
retained earning ).
3)
Dasar penilaian
aktiva tetap harus dicantumkan dalam neraca atau dalam catatan mengenai
ikhtisar keuangan. Dasar penelitian yang dapat diterima adalah dasar harga
perolehan. Penilaian kembali tidak sesuai dengan prinsip akuntansi indonesia.
4)
Metode
penyusutan yang digunakan juga harus dicantumkan dalam neraca atau catatan
ikhtisar keuangan.
5)
Kebijaksanaan
kapitalisasi harus dicantumkan dalam ikhtisar keuangan atau catatan mengenai
ikhtisar keuangan.
6)
Barang-barang
yang dijadikan jaminan harus dicantumkan dalam catatan mengenai ikhtisar
keuangan.
7)
Aktiva tetap
yang sudah tidak dipakai karena sudah tua atau secara ekonomis tidak dapat lagi
digunakan, tidak boleh dicatat sebagai aktiva tetap dan harus dicatat sebagai
aktiva lain dengan harga besi tua ( salvage value ).
2.6 Masalah-masalah Khusus
1)
Sering terjadi
bahwa aktiva tetap dibeli dari atau dibuat oleh perusahaan yang masih
berafiliasi dengan perusahaan/ pelanggan yang diperiksa. Contoh: PT. ABC yang
mendapat kredit investasi dari suatu bank untuk mendirikan hotel, kemudian
membuat suatu perusahaan pemborong bangunan ( PT. DEF ) atau PT. PQR yang
merupakan suatu usaha patungan ( Joint venture ) antara sebuah perusahaan
indonesia dengan suatu perusahaan asing. Perusahaan asing ini mensupply aktiva
tetap dan aktiva tersebut mungkin barang bekas pakai yang diperbaiki kemudian
dikirim ke Indonesia.
Dalam
kedua contoh ini ada masalah penetapan harga perolehan yang wajar karena pihak
yang mensupply aktiva tetap tersebut masih berafiliasi dengan perusahaan yang
diperiksa. Dalam bahas inggris transaksi ini disebut related party transaction atau transaksi yang tidak at
arm’s length.
Dalam
hal ini harus ada penjelasan ( disclosure
) dalam catatan mengenai ikhtisar keuangan tentang jenis dan besarnya
transaksi tersebut.
2)
Didalam
pembahasan prosedur pemeriksaan, disebutkan bahwa akuntan harus melihat adanya
aktiva yang bersangkutan untuk menyakinkan dirinya sendiri bahwa aktiva
tersebut memang ada. Kalau aktiva ini hanya sekedar gedung, mesin tik atau
suatu kendaraan bermotor, hal ini masih mudah, kesukaran sering timbul karena
aktiva yang ingin dilihat merupakan suatu perlengkapan yang tidak begitu
dikenal oleh akuntan, sehingga kita tidak dapat memastikan bahwa barang yang
kita lihat memang sungguh-sungguh barang yang hendak dilihat.
Kalau
barang tersebut mempunyai catatan teknis yang juga tercetak pada perlengkapan
yang bersangkutan maka ia dapat membandingkan catatan yang ada pada dokumen
pembelian dengan catatan pada perlengkapan. Kalau sistem pengendalian intern
dapat dipercaya, akuntan dapat mencocokkan nomor aktiva tetap berdasarkan
register atau kartu aktiva langganan. Kalau akuntan masih tidak puas ia dapat
menggunakan tenaga ahli dalam lapangan yang bersangkutan.
3)
Selain transaksi
pembelian yang tidak at arm’s length
seperti kasus no 1, mungkin juga ada transaksi penjualan aktiva tetap yang
dilakukan tidak at arm’s length ,
misalnya penjualan rumah instansi pada seorang direktur.
Dalam
hal ini akuntan harus melihat prosedur dan kebijakansanaan intern dalam menjual
aktiva pada direkturnya. Akuntan harus sangat berhati-hati kalau peristiwa
tersebut terjadi pada perusahaan yang dijalankan oleh orang-orang yang bukan
menjadi pemilik modal, karena transaksi seperti itu mungkin hanya menguntungkan
pribadi direktur tersebut. Kenyataan yang dapat lebih mencurigakan akuntan
dalam hal prosedur intern tidak jelas ialah kalau sebelum rumah tersebut
dijual, rumah tersebut diperbaiki lebih dulu dan biaya perbaikan dibebankan
pada perusahaan sedang harga jual dilakukan dengan nilai buku yang sudah
rendah.
4)
Sering dilihat
bahwa aktiva tetap dibeli dengan harga yang terlalu tinggi dibandingkan dengan
harga yang umum berlaku untuk barang tersebut pada waktu itu dan ditempat yang
sama. Kesulitannya disini adalah bahwa unsur komisi atau kick back yang telah
menambah harga aktiva tetap tersebut tidak dapat dibuktikan oleh akuntan.
Pimpinan
perusahaan atau dewan komisaris seharusnya diberi tahu mengenai keadaan ini,
tetapi bukan dengan pemberitahuan bahwa ada unsur komisi atau kick back
melainkan adanya barang yang dibeli dengan harga yang lebih tinggi. Disini
harga pasaran umumnya dan sumber harga tersebut sebaiknya juga dicantumkan.
Kalau barang-barang tersebut dapat ditenderkan dan pembelian tersebut dilakukan
tanpa tender hal ini juga harus dicantumkan dalam surat komentar akuntan.
5)
Didalam salah
satu prosedur pemeriksaan diatas disebutkan bahwa akuntan harus menelaah jumlah
pertanggungan asuransi untuk menentukan apakah jumlah pertanggungan itu cukup,
kurang atau bahkan lebih. Hal ini bukanlah hal yang mudah, dan sangatlah tidak
bijaksana untuk menentukan kecukupan jumlah pertanggungan asuransi dengan
sekedar membandingkan nilai buku aktiva tetap itu dengan jumlah
pertanggungannya atau dengan membandingkan jumlah pinjaman ( misalnya dari bank
) dengan jumlah pertanggungannya.
Membandingkan
nilai buku dengan jumlah pertanggungan mempunyai kelemahan sebagai berikut :
a.
Nilai buku tidak
mencerminkan harga atau nilai aktiva yang bersangkutan. Misalnya, jika aktiva
tetap tersebut sudah disusutkan penuh, nilai bukanya nol. Perbandingan antara
jumlah pertanggungan dengan nilai buku dapat memberi kesan seolah-olah jumlah
pertanggungan terlalu besar.
b.
Misalkan aktiva
tetapnya masih baru sehingga nilai buku masih menggambarkan nilai aktiva tetap.
Membandingkan nilai buku dengan jumlah pertanggungan belum tentu memberikan
gambaran mengenai kecukupan jumlah pertanggungan. Contoh : dalam industri
tekstil, harga bangunan yang sangat tinggi disebabkan karena perlunya fondasi
bangunan yang khusus. Kalau terjadi kebakaran ditaksir fondasi ini masih tetap
dapat dipertahankan sehingga tidak perlu jumlah pertanggungannya sama dengan
nilai buku aktiva baru.
Membandingkan nilai buku dengan persyaratan kredit
bank juga tidak selalu tepat. Bank misalnya dapat mensyaratkan jumlah barangg
jaminan 150% dari jumlah debetstand hutang dan karenanya jumlah pertanggungan
juga dibuat 150% dari debetstand. Jumlah pertanggungan ini mungkin cukup,
mungkin kurang atau mungkin juga berlebihan, karena jumlah pertanggungan yang
cukup tidaklah mempunyai hubungan langsung dengan persyaratan kredit bank.
6)
Dimuka
disebutkan bahwa nilai aktiva tetap yang sesuai dengan prinsip akuntansi indonesia
adalah harga perolehan atau harga historis. Kalau pemegang saham mempunyai
gedung yang mempunyai harga historis Rp. 2.500.000 tapi bernilai Rp. 25.000.000
pada saat ini, gedung tersebut dujadikannya sebagai penyetoran modal, ia tentu
saja dapat mengatakan bahwa penyetoran modal nya bernilai Rp. 25.000.000 dan
bukan Rp. 2.500.000. dalam hal ini dari segi si pemegang saham harga Rp.
25.000.000 adalah harga penilaian kembali ( appraised value ) tapi untuk PT
harga Rp. 25.000.000 dalah harga perolehan. Sehingga kalau kita memeriksa PT
tadi, penilaian aktiva tetapnya adalah sesuai dengan prinsip akuntansi
indonesi. Tapi disini perlu ada catatan mengenai related Party transaction
tersebut.
7)
Penyusutan
aktiva tetap berdasarkan prinsip akuntansi belum tentu sama dengan umur aktiva
yang disebutkan dalam peraturan perpajakan. Akuntan atau pembantunya harus
menyusun suatu kertas kerja yang merekonsiliasi penyusutan menurut prinsip
akuntansi dan penyusutan untuk keperluan pajak.
2.7 Pengujian Subtantif Atas Saldo Aktiva Tetap
Rekening aktiva tetap digunakan untuk menampung pencatatan
atas aktiva perusahaan atau organisasi yang mempunyai manfaat ekonomis lebih
dari satu tahun. Aktiva-aktiva yang termasuk dalam katagori ini antara lain,
tanah, bangunan, jalan, jembatan, bangunan air, instalasi dan jaringan, mesin,
peralatan, kendaraan, serta mebel. Aktiva tersebut tidak akan habis dalam waktu
satu tahun. Rekening nominal yang berkaitan erat dengan aktiva tetap adalah
biaya depresiasi, perbaikan, dan sewa gedung atau aktiva lainnya.
Aktiva tetap sering kali merupakan komponen terbesar
dari total aktiva dalam neraca perusahaan atu organisasi. Biaya-biaya yang
berhubungan dengan aktiva tetap merupakan faktor yang material dalam laporan
rugi laba. Pemeriksaan terhadap aktiva tetap memakan waktu dan biaya yang
relatif labih sedikit dibandingkan dengan pemeriksaan aktiva lancar.
Dalam audit atas aktiva tetap , auditor harus
memisahkan pengujian kedalam katagori berikut :
1)
Melaksanakan
prosedur analitis
Jenis
prosedur analitis tergantung pada sifat operasi klien. Prosedur analitis untuk
aktiva tetap :
Prosedur analitis
|
Salah saji yang mungkin
|
Membandingkan beban penyusutan yang dibagi dengan biaya aktiva tetap
kotor dengan tahun sebelumnya
|
Salah saji beban penyusutan dan akumulasi penyusutan
|
Membandingkan akumulasi penyusutan yang dibagi dengan biaya aktiva
tetap kotor dengan tahun sebelumnya
|
Salah saji akumulasi penyusutan
|
Membandingkan reparasi dan pemeliharaan bulanan atau tahunan, beban
perlengkapan, beban peralatan kecil, dan akun-akun serupa dengan tahun sebelumnya
|
Membebankan jumlah yang harus dikapitalisasi
|
Membandingkan biaya manufaktur kotor yang dibagi dengan beberapa
ukuran produksi dengan tahun sebelumnya
|
Peralatan yang menganggur atau peralatan yang disingkirkan tetapi
belum dihapus
|
2)
Memverifikasi
akuisisi tahun berjalan
Perusahaan harus mencatat penambahan selama tahun
berjalan dengan benar karena aktiva memiliki pengaruh jangka panjang terhadap
laporan keuangan. Kegagalan untuk mengkapitalisasi aktiva tetap, atau mencatat
akuisisi pada jumlah yang salah, akan mempengaruhi neraca sehingga perusahaan
melepas atau membuang aktiva itu. Laporan laba rugi juga akan terpengaruh
hingga aktiva itu telah sepenuhnya disusutkan.
Karena pentingnya akuisis periode berjalan dalam audit
aktiva tetap, auditor menggunakan tujuh dari delapan tujuan audit yang
berkaitan dengan saldo sebagai kerangka referensi bagi pengujian atas rincian
saldo: (1) eksistensi (2) kelengkapan (3) keakuratan (4) klasifikasi (5) pisah
batas (6) detail tie-in (7) serta hak dan kewajiban.
Tujuan audit yang berkaitan dengan saldo dan pengujian
audit yang umum ditunjukkan pada tabel dibawah ini :
Tujuan audit yang berkaitan dengan saldo
|
Pengujian atas rincian saldo yang umum
|
Komentar
|
Akuisisi tahun berjalan dalam skedul akuisisi sama dengan jumlah file
induk terkait, dan totalnya sama dengan buku besar umum (detail tie-in)
|
Memfooting skedul akuisisi.
Menelusuri setiap akuisisi ke file induk untuk
melihat jumlah an deskripsinya.
Menelusuri total kebuku besar umum.
|
Memfooting skedul akuisisi dan menelusuri setiap
akuisisi yang harus dibatasi kecuali pengendaliannya lemah.
Semua kenaikan saldo buku besar umum selama tahun tersebut harus
direkonsiliasi dengan skedul
|
Akuisisi tahun lalu berjalan seperti yang tercantum dalam daftar memang
ada (eksistensi)
|
Memeriksa faktur vendor dan laporan penerimaan.
Memeriksa aktiva secara fisik.
|
Bukanlah hal yang umum untuk memeriksa secara fisik aktiva yang
diperoleh kecuali pengendaliannya lemah atau jumlahnya meterial
|
Akuisisi yang ada telah dicatat (kelengkapan)
|
Memeriksa faktur vendor yang berhubungan erat dengan
akun seperti reparasi dan pemeliharaan untuk mengungkapkan item-item yang
akan menjadi aktiva tetap.
Mereview perjanjian lease dan sewa.
|
Tujuan ini merupakan salah satu yang paling penting untuk aktiva tetap
|
Akuisisi tahun berjalan yang ada dalam daftar sudah akurat.
(keakuratan)
|
Memeriksa vendor
|
Luasnya tergantung pada resiko inheren dan efektifitas pengendalian
internal.
|
Akuisisi tahun berjalan yang ada dalam daftar telah diklasifikasikan
dengan benar. (klasifikasi)
|
Memeriksa faktur vendor dalam akun aktiva tetap
untuk mengungkapkan item-item yang harus diklasifikasikan sebagai aktiva
tetap kantor, pabrik, dll.
Memeriksa faktur vendor yang berhubungan erat dengan
akun seperti reparasi untuk mengungkapkan item-item yang akan menjadi aktiva
tetap.
Memeriksa beban sewa dan lease untuk lease yang
dapat dikapitalisasi.
|
Tujuannya berkaitan erat dengan pengujian untuk kelengkapan. Hal ini
dilakukan dalam kaitannya dengan tujuan tersebut dan pengujian untuk
keakuratan.
|
Akuisis tahun berjalan dicatat pada periode yang benar (pisah batas).
|
Mereview transaksi yang mendekati tanggal neraca
pada periode yang benar.
|
Biasanya dilakukan sebagai bagian dari pengujian pisah batas utang
usaha.
|
Klien memiliki hak atas akuisisi tahun berjalan (hak)
|
Memeriksa faktur vendor
|
Biasanya tidak ada masalah untuk aktiva tetap.
Akte properti, aktiva tidak berwujud, dan tagihan pajak sering kali
diperiksa untuk tanah dan bangunan utama.
|
Titik awal untuk memverifikasi akuisisi tahun berjalan
umumnya merupakan sebuah skedul yang diperoleh dari klien menyangkut semua
akuisisi yang dicatat pada akun aktiva tetap dibuku besar umum selama tahun
tersebut. Klien memperoleh informasi ini dari file induk aktiva tetap. Skedul
yang tipikal memuat deskripsi, notasi apakah barang tersebut baru atau bekas,
umur aktiva untuk tujuan penyusutan, metode penyusutan, dan biaya atau harga
perolehannya.
3)
Memverifikasi
pelepasan tahun berjalan
Transaksi yang melibatkan pelepasan aktiva tetap
sering kali disalahsajikan apabila pengendalian internal perusahaan tidak
memiliki metode formal untuk memberi tahu manajemen tentang penjualan, tukar
tambah, pengabaian, atau pencurian mesin dan peralatan yang tercatat. Jika
klien lalai mencatatpelepasan, biaya awal akun aktiva tetap akan dinyatakan
terlalu tinggi, dan nilai buku bersih akan dinyatakan terlalu tinggi hingga
aktiva telah disusutkan sepenuhnya. Metode formal untuk menelusuri pelepasan
dan provisi menyangkut otorisasi yang tepat atas penjualan atau pelepasan
aktiva akan membantu mengurangi resiko salah saji. Juga harus ada verifikasi
internal yang memadai atas pelepasan yang tercatat untuk memastikan bahwa
aktiva telah dihapus dengan benar dari catatan akuntansi.
Tujuan utama auditor dalam memverifikasi penjualan,
tukar tambah, atau pengabaian aktiva tetap adalah untuk mengumpulkan bukti yang
cukup bahwa semua pelepasan telah dicatat dan pada jumlah yang benar. Titik
awal untuk memverifikasi pelepasan adalah skedul klien yang berisi catatan
tentang pelepasan itu. Skedul tersebut umumnya mencantumkan tanggal kapan
aktiva dilepas atau dibuang, nama orang atau perusahaan yang mengakuisisi
aktiva, harga jual, biaya awal, tanggal akuisis dan akumulasi penyusutan.
Ketika suatu aktiva dijual atau dibuang begitu saja
tanpa ditukar dengan aktiva pengganti, keakuratan transaksi dapat diverifikasi
dengan memeriksa faktur penjualan terkait dan file induk aktiva tetap. Auditor
harus membandingkan biaya dan akumulasi penyusutan yang ada dalam file induk
dengan ayat jurnal yang tercatat dalam jurnal umum serta menghitung kembali
keuntungan atau kerugian atas pelepasan aktiv a sebagai perbandingan dengan
catatan akuntansi. Jika terjadi tukar tambah aktiva dengan aktiva pengganti,
auditor harus memastikan bahwa aktiva yang baru dikapitalisasi dan aktiva yang
digantikan dihapus secara layak dari catatan, dengan mempertimbangkan nilai
buku aktiva yang ditukar tambah dan biaya tambahan aktiva yang baru.
4)
Memverifikasi
saldo akhir akun aktiva
Dua
tujuan auditor ketika mengaudit aktiva tetap termasuk menentukan bahwa :
a.
Semua aktiva
tetap yang tercatat ada secara fisik pada tanggal neraca
b.
Semua aktiva
tetap yang dimiliki telah dicatat.
Ketika merancang
pengujian audit untuk memenuhi tujuan tersebut, pertama auditor
mempertimbangkan sifat pengendaliaqn internal terhadap aktiva tetap. Idealnya,
auditor mampu menyimpulkan bahwa pengendalian cukup kuat untuk memungkinkannya
bergantung pada saldo yang dicatat dari tahun sebelumnya. Pengendalian yang
penting meliputi penggunaan file induk untuk setiap aktiva tetap, pengendalian
fisik yang memadai terhadap aktiva yang mudah dipindahkan ( seperti, komputer,
perkakas, dan kendaraan ), penulisan nomor identifikasi kesetiap aktiva tetap,
serta perhitungan fisik periodik atas aktiva tetap dan rekonsiliasinya oleh
personil akuntansi. Metode formal untuk memberi tahu departemen akuntansi
tentang semua pelepasan aktiva tetap juga merupakan pengendalian yang penting
terhadap saldo aktiva yang dicatatketahun berjalan.
5)
Memverifikasi
beban penyusutan
Beban penyusutan merupakan salah satu dari beberapa
akun beban yang tidak diverifikasi sebagai bagian dari pengujian pengendalian
dan pengujian subtantif atas transaksi. Jumlah yang tercatat ditentukan dengan
alokasi internal dan bukan oleh transaksi pertukaran dengan pihak luar. Jika
beban penyusutan berjumlah material, akan diperlukan lebih banyak pengujian
yang terinci atas beban penyusutan ketimbang untuk akun yang telah diverifikasi
melalui pengujian pengendalian dan pengujian subtantif atas transaksi.
Tujuan audit Yng berkaitan dengan saldo yang paling
penting untuk beban penyusutan adalah keakuratan. Auditor harus berfokus pada
penentuan apakah klien mengikuti kebijakan penyusutan yang konsisiten dari periode
ke periode, dan apakah perhitungan klien sudah benar.
Dalam menentukan hal yang pertama, auditor harus
mempertimbangkan empat aspek:
1.
Umur manfaat
akuisisi periode berjalan
2.
Metode
penyusutan
3.
Estimasi nilai
sisa
4.
Kebijakan
penyusutan aktiva dalam tahun akuisisi dan disposisi
Kebijakan klien
dapat ditentukan melalui diskusi dengan personil yang berwenang dan
membandingkan responnya dengan informasi yang ada dalam file permanen auditor.
Dalam memutuskan kelayakan umur manfaat yang dibebankan ke aktiva yang baru
saja diakuisisi, auditor harus mempertimbangkan umur fisik aktiva, umur yang
diharapkan, ( dengan memperhatikan keusangan atau kebijakan normal perusahaan
untuk meningkatkan mutu aktiva tetap ), dan kebijakan perusahaan yang
ditetapkan menyangkut pertukaran peralatan.
6)
Memverifikasi
saldo akhir akumulasi penyusutan
Pendebetan ke akumulasi penyusutan biasanya diuji
sebagai bagian dari audit atas pelepasan aktiva, sementara kredit diverifikasi
sebagai bagian dari beban penyusutan. Jika auditor menelusuri transaksi
tertentu ke catatan akumulasi penyusutan dalam file induk aktiva tetap sebbagai
bagian dari pengujian tersebut, maka hanya diperlukan sedikit pengujian
tambahan atas saldo akhir akumulasi penyusutan.
Dua tujuan yang biasanya ditekankan dalam audit atas
saldo akhir akumulasi penyusutan adalah :
1.
Akumulasi
penyusutan yang dinyatakan pada file induk aktiva tetap sama dengan buku besar
umum. Tujuan ini dapat dipenuhi dengan menguji footing akumulasi penyusutan
dalam file induk aktiva tetap dan menelusuri totalnya kebuku besar umum.
2.
Akumulasi
penyusutan dalam file induk sudah akurat.
Dalam beberapa
kasus, umur aktiva tetap khusunya properti pabrik mungkin saja berkurang secara
signifikan kerena umumnya permintaan pelanggan atas produk, kerusakan fisik
yang tidak terduga, modifikasi operasi, atau perubahan lainnya. Berdasarkan
kemungkinan-kemungkinan tersebut, auditor harus mengevaluasi kememadaian
penyisihan untuk akumulasi penyusutan setiap tahun guna memastikan bahwa nilai
buku bersih tidak melampaui nila realisasi aktiva.
2.8 Penetapan Resiko Deteksi
Jenis aktiva
tetap yang berbeda mempunyai resiko bawaan dan resiko pengendalian yang juga
berbeda. Resiko bawaan untuk tanah adalah lebih rendah dibandingkan resiko
bawaan untuk kendaraan maupun bangunan. Hal ini diakibatkan oleh kerentanan
dalam pengendalian dan kerumitan dalam perhitungan dari estimasi umur ekonomis
dan nilai residualnya. Variasi dalam resiko bawaan dan resiko pengendalian
antar berbagai aktiva tersebut perlu diperhatikan oleh auditor dengan
menentukan tingkat resiko deteksi yang tepat untuk masing-masing pernyataan.
Disamping itu, terdapat berbagai faktor lain yang mempengaruhi tinggi rendahnya
resiko bawaan. Resiko bawaan pada pernyataan penilaian atau pengalokasian
adalah relatif tinggi pada pembelian aktiva tetap dengan menggunakan kredit
jangka panjang.
Resiko pengendalian aktiva tetap pada umumnya relatif
rendah karena transaksi ini jarang terjadi dan terdapat otorisasi pimpinan atas
pembelian aktiva tetap yang penting. Meskipun resiko pengendaliannya rendah
sehingga resiko deteksinya ditetapkan pada tingkat yang tinggi, auditor perlu
menggunakan pendekatan pengutamaan pengujian subtantif. Hal ini disebabkan
karena transaksi pembelian aktiva tetap secara individual memiliki pengaruh
yang material terhadap laporan keuangan.
2.9 Sebuah Kasus Audit Asset Tetap
Pada
Desember 2006 Indonesia Corruptin Watch (ICW) melaporkan kasus dugaan korupsi
ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam ruislaag (tukar guling) antara
asset PT. Industri Sandang Nusantara (ISN), sebuah BUMN yang bergerak di bidang
tekstil, dengan
asset PT. GDC, sebuah perusahaan swasta.
Dalam ruislaag tersebut PT. ISN menukarkan tanah seluas 178.497 meter
persegi di kawasan Senayan dengan Tanah seluas 47 hektar beserta Pabrik dan mesin di
karawang.
Berdasarkan hasil temuan Badan
Pemeriksaan Keuangan (BPK) semester II Tahun Anggaran 1998/1999, menyatakan
ruislaag itu berpotensi merugikan keuangan Negara sebesar Rp. 121,628 miliar.
Kerugian itu terdiri dari
kekurangan luas bangunan pabrik dan mesin milik PT. GDC senilai Rp. 63,954
miliar, berdasarkan penilaian aktiva tetap oleh PT. Sucofindo pada 1999;
penyusutan nilai asset pabrik milik PT. GDC senilai Rp. 31,546 miliar; dan
kelebihan perhitungan harga tanah senilai Rp. 0,127 miliar. Selain itu juga
ditemukan bahwa terdapat nilai saham yang belum dibayarkan oleh PT. GDC sebesar
Rp. 26 miliar.
Telaah Kasus
Dalam kasus Ruislaag di atas,
karena ketidakjelasan prosedur dan syarat-syarat tukar guling asset, sehingga
sangat rawan untuk diselewengkan.
Seharusnya keputusan Tukar Guling
tidak hanya menjadi wewenang salah satu pejabat saja, melainkan melibatkan
beberapa pejabat sebagai pengendali dan control yang baik. Selain itu juga
diperlukan sebuah aturan baku oleh perusahaan mengenai tukar guling, sehingga
kemungkinan penyelewengan menjadi berkurang.
Diperlukan juga control dari
lembaga bersangkutan terhadap penelitian tim penilik yang meneliti kelengkapan
mengenai status asset, dokumen kelengkapan asset, sehingga tidak ada manipulasi
dari nilai asset tersebut serta proses tukar menukar.
Walaupun menggunakan jasa
Appraisal, penilaian asset tetap juga tetap harus diawasi untuk mencegah
kecurangan-kecurangan.
Dari kasus diatas dapat dibuktikan
bahwa PT. ISN memiliki pengendalian intern yang sangat buruk. Sehingga PT. ISN
rawan dicurangi oleh rekanan-rekanan bisnisnya maupun oleh oknum-oknum pejabat
perusahaan yang ingin mengambil keuntungan. Oleh karena itu hal pertama yang
harus dibenahi oleh PT. ISN adalah soal Pengendalian Internnya
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1)
Aktiva Tetap merupakan aset suatu
perusahaan yang berwujud, yang digunakan untuk kegiatan operasional
perusahaan dalam jangka waktu lebih dari satu periode.
2)
Dari sudut
substansi, aktiva tetap dapat dibagi menjadi:
a)
Tangible Assets atau aktiva berwujud
seperti lahan, mesin, gedung, dan peralatan.
b)
Intangible Assets atau aktiva yang
tidak berwujud seperti Goodwill, hak paten,
hak cipta, dan lain-lain.
Dari sudut disusutkan atau Tidak dapat dibagi menjadi :
a)
Depreciated Plant Assets yaitu aktiva tetap
yang dapat disusutkan seperti bangunan, peralatan, mesin,
inventaris, dan lain-lain.
b)
Undepreciated Plant Assets yaitu aktiva tetap
yang tidak disusutkan seperti tanah.
Berdasarkan jenis
dapat dibagi menjadi:
a.
Tanah yang diatasnya
didirikan bangunan atau digunakan operasi, misalnya sebagai lapangan, halaman,
tempat parkir dan lain sebagainya.
b.
Bangunan, baik bangunan kantor, toko maupun
bangunan untuk pabrik;
c.
Mesin;
d.
Inventaris;
e.
Kendaraan dan
perlengkapan atau alat-alat lainnya.
3)
Tujuan pengujian
substantif terhadap saldo aktiva tetap:
·
Memperoleh
keyakinan tentang keandalan catatan akuntansi yang berkaitan dengan aktiva
tetap
·
Membuktikan
kebenaran aktiva tetap dan keterjadian transaksi yang berkaitan dengan aktiva
tetap yang dicantumkan dineraca.
·
Membuktikan
hak kepemilikan klien atas aktiva tetap yang dicantumkan di neraca.
·
Membuktikan
kewajaran penilaian aktiva tetap yang dicantumkan dineraca.
·
Membuktikan
kewajaran penyajian dan pengungkapan aktiva tetap dineraca.
4)
Prosedur audit
atas aktiva tetap
·
Prosedur audit
awal
·
Pengujian
analitik
·
Pengujian
terhadap transaksi rinci
·
Pengujian
terhadap saldo akun rinci
·
Verifikasi
penyajian dan pengungkap.
3.2 Saran
I.
Mahasiswa dan masyarakat luas harus lebih
memahami bagaimana ketentuan-ketentuan mengenai aktiva tetap agar tidak terjadi
kesalahan pada pemahaman terhadap aktiva tetap.
II.
Auditor harus mengaudit sesuai dengan
prosedur audit agar tidak terjadi kesalahan dalam pengauditan.
III.
Akuntan harus memahami dengan baik bagaimana
pencatatan aktiva tetap yang baik dan benar agar tidak terjadi salah pencatatan
dalam transaksi keuangan.
DAFTAR PUSTAKA
AlvinA.Arens, RandalJ.Elder, & MarkS.Beasley. (2008). Auditing
dan Jasa Assurance. Jakarta: Erlangga.
IndraBastian. (2006). Audit Sektor Publik.
Jakarta: Salemba Empat.
TheodorusM.TuanaKotta. (1982). Auditing
petunjuk pemeriksaan akuntan publik. Jakarta: Lembaga penerbit Fakultas
Ekonomi Universitas Indonesia .
http://iipsaja.blogspot.com/2009/04/contoh-kasus-audit-fixed-asset.
Daftar Isi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar